BENGKULU TENGAH — Keterbatasan akses transportasi darurat mendorong warga Desa Bajak, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, bergerak sendiri. Mereka menginisiasi gerakan tangguk amal, sebuah pengumpulan dana sukarela yang digilir dari rumah ke rumah, untuk membeli satu unit ambulans desa.
Ketua Panitia Pengadaan Ambulans, Hamzah, mengatakan ide ini murni lahir dari keresahan warga di tingkat akar rumput. Selama ini, warga kerap kesulitan saat ada anggota keluarga yang sakit parah atau meninggal dunia karena tidak ada kendaraan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan.
"Kami pernah mengalami kejadian saat ada warga meninggal maupun sakit, tetapi tidak ada mobil sehingga penanganannya menjadi lambat," kata Hamzah.
Dana Terkumpul Rp74 Juta dalam 150 Hari
Konsistensi warga berdonasi mulai membuahkan hasil. Hamzah mencatat, hingga hari ke-150 sejak kotak tangguk amal diedarkan, total dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp74 juta. Target yang dibidik panitia adalah Rp290 juta untuk membeli ambulans baru.
"Mudah-mudahan dalam waktu dua sampai tiga tahun target itu bisa tercapai," ujarnya.
Namun, Hamzah menyadari perjalanan pengumpulan dana masih panjang. Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah daerah, perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial, maupun para dermawan agar ambulans bisa segera terparkir di Desa Bajak.
Dukungan Penuh Pemerintah Desa dan Tokoh Masyarakat
Langkah swadaya ini mendapat respons positif dari otoritas setempat. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Bajak 1, Novi Elis Sugianto, menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan tangguk amal. Menurutnya, pengadaan ambulans memiliki urgensi tinggi bagi keselamatan jiwa warga.
"Kami sangat mendukung pengadaan ambulans ini. Mudah-mudahan nanti tidak ada lagi warga yang terlambat dibawa ke rumah sakit, terutama warga yang sakit atau ibu hamil yang membutuhkan penanganan cepat," kata Novi.
Novi membeberkan realitas di lapangan: selama ini warga yang sakit atau hendak bersalin terpaksa mengandalkan mobil pribadi milik tetangga. Selain terkendala faktor geografis, warga sering merasa sungkan untuk meminjam kendaraan, apalagi jika situasi darurat terjadi pada tengah malam.
Tokoh masyarakat Desa Bajak, Sudirmansyah, mengaku bangga dengan semangat gotong royong warga. Ia berharap impian kolektif ini segera terwujud agar kesenjangan akses pelayanan kesehatan darurat di kawasan pedesaan Bengkulu Tengah bisa terpangkas.