BENGKULU — Dua minggu terakhir saya menguji langsung Seagate LaCie 8big Pro5, sebuah Direct-Attached Storage (DAS) yang dirancang untuk workflow video profesional. Perangkat ini bukan sekadar hard drive eksternal biasa—ia adalah sistem penyimpanan delapan bay dengan dukungan Thunderbolt 5. Harganya? Lebih mahal dari kebanyakan mobil bekas di Indonesia.
Varian termurahnya (32TB) dibanderol USD 6.812 atau sekitar Rp 109 juta dengan kurs Rp 16.000. Varian puncak 256TB yang saya uji harganya USD 14.259—lebih dari Rp 228 juta. Sebagai perbandingan, harga tersebut setara Toyota Agya baru atau beberapa unit Honda PCX bekas.
Desain Baja: Bobot 14 Kg dan Delapan Bay Hot-Swap
LaCie 8big Pro5 dibangun dari aluminium solid satu bagian dengan finishing abu-abu metalik. Dimensinya 29,7 x 23,2 x 21,5 cm dan beratnya 31,59 pon (sekitar 14,3 kg). Handle terintegrasi di bagian atas memudahkan pengangkatan, meski perangkat ini jelas tidak dirancang untuk sering dipindah-pindah.
Delapan bay-nya mendukung hot-swap penuh. Anda bisa mencabut dan mengganti hard drive IronWolf Pro satu per satu tanpa mematikan sistem, dan proses transfer data tetap berjalan. Untuk pemula, LaCie RAID Manager otomatis membangun ulang array saat drive diganti—tanpa konfigurasi manual yang ribet.
Kecepatan Baca 2.928MB/s: Setara SSD Internal NVMe
Hasil tes CrystalDiskMark menunjukkan angka yang mengesankan: kecepatan baca 2.928MB/s dan tulis 1.687MB/s pada Q8T1. Untuk transfer file besar tunggal (Q1T1), angkanya masih solid di 2.387MB/s baca dan 1.572MB/s tulis.
Dalam praktik nyata, memindahkan file video 4K dari kamera Sony RX10 V terasa instan. Kapasitas sebesar ini juga berarti Anda bisa menyimpan ratusan jam footage 6K atau 8K tanpa khawatir kehabisan ruang. Sistem RAID 5 atau RAID 6 memberikan redundansi data, jadi risiko kehilangan file akibat kerusakan drive bisa diminimalkan.
Fungsi Ganda: Bisa Charging Laptop dan Output Dua Monitor 8K
Di bagian belakang ada empat port USB-C. Satu port Thunderbolt 5 mendukung power delivery 140W—cukup untuk mengisi MacBook Pro atau laptop Windows tanpa charger terpisah. Dua port downstream lainnya bisa dipakai untuk dua monitor 8K sekaligus atau daisy-chain perangkat Thunderbolt lain, masing-masing dengan PD 30W.
Satu port USB 3.2 Gen 2 terakhir punya kecepatan 20Gbps dan PD 15W untuk periferal seperti mouse atau keyboard. Dengan begitu, LaCie 8big Pro5 berfungsi ganda sebagai docking station, mengurangi kekacauan kabel di meja kerja.
Kekurangan: Harga Selangit dan Sampah Kabel Internasional
Masalah paling jelas adalah harga. Mulai dari Rp 109 juta untuk 32TB, perangkat ini jelas di luar jangkauan kreator individu. Target pasarnya memang studio film, broadcaster, atau tim VFX—bukan content creator rumahan. Untuk kebutuhan pribadi, membeli SSD eksternal 4TB beberapa unit jauh lebih masuk akal secara biaya.
Kekurangan kedua adalah pemborosan: unit ini datang dengan empat kabel power untuk standar internasional berbeda (UK, US, EU, dan lainnya). Mayoritas pengguna hanya akan memakai satu dan membuang sisanya—kontribusi sampah elektronik yang tidak perlu. Sebaiknya Seagate memberi opsi memilih kabel sesuai negara tujuan saat checkout.
Verdict: Kapan Perangkat Ini Layak Dibeli?
LaCie 8big Pro5 adalah produk niche untuk profesional yang benar-benar membutuhkan kapasitas raksasa, kecepatan tinggi, dan keandalan data dalam satu paket. Jika pekerjaanmu melibatkan editing 8K harian, rendering film, atau arsip data besar yang harus selalu online, investasi Rp 200 jutaan ini bisa terbayar.
Tapi untuk 99% pengguna di Indonesia—termasuk videografer lepas yang sering pindah lokasi syuting—solusi yang lebih rasional adalah kombinasi SSD portabel untuk proyek aktif dan hard drive eksternal untuk arsip. Garansi 5 tahun dan layanan Rescue Data Recovery dari Seagate memang nilai plus, tapi tetap tidak mengubah kenyataan bahwa ini adalah barang mewah untuk segelintir orang.