Pencarian

BMKG Bengkulu Waspadai Potensi Karhutla di Seluma, Bengkulu Selatan hingga Kaur; Musim Hujan Diprediksi Mundur hingga Oktober 2026

Kamis, 03 September 2026 • 12:43:01 WIB
BMKG Bengkulu Waspadai Potensi Karhutla di Seluma, Bengkulu Selatan hingga Kaur; Musim Hujan Diprediksi Mundur hingga Oktober 2026
BMKG Bengkulu memetakan tiga kabupaten dengan tingkat kemudahan terbakar 80–90 persen selama musim kemarau.

Tiga kabupaten di Provinsi Bengkulu, yakni Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur, kini masuk zona dengan tingkat kemudahan terbakar 80 hingga 90 persen selama musim kemarau. Kepala BMKG Bengkulu, Luhur Tri Uji Prayitno, meminta warga di wilayah tersebut menahan diri dari aktivitas pembakaran karena masa kemarau diprediksi lebih panjang akibat El Nino. Pergeseran awal musim hujan yang mundur sekitar tiga hingga empat dasarian membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai hingga akhir tahun ini.

BENGKULU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bengkulu memetakan tiga kabupaten dengan risiko kebakaran hutan dan lahan tertinggi pada musim kemarau tahun ini. Wilayah tersebut membentang dari Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, hingga Kabupaten Kaur.

Peta potensi kebakaran yang dirilis BMKG menunjukkan zona berwarna merah di ketiga daerah itu. Menurut Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno, warna merah mengindikasikan peluang mudah terbakar mencapai 80-90 persen.

Zona Merah: 80-90 Persen Peluang Mudah Terbakar

"Perlu diwaspadai peluang yang menjadi mudah terbakar. Seperti yang saya tunjukkan di peta ada warna merah-merah di Kabupaten Kaur, Seluma, Bengkulu Selatan, yang merah-merah itu peluang 80-90 persen mudah terbakar," kata Luhur di Bengkulu, Kamis.

Luhur menegaskan kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama bagi warga yang beraktivitas menggunakan api atau lahan. Ia mengingatkan agar tidak melakukan pembakaran di wilayah yang masuk zona tingkat kemudahan terbakar tinggi.

"Maka, di daerah itu kita perlu memberi tanda larangan," ujarnya.

El Nino Perpanjang Kemarau, Hujan Baru Turun Oktober

Kewaspadaan itu muncul bukan tanpa alasan. Luhur menjelaskan, musim kemarau di Bengkulu masih berlangsung dan awal musim hujan justru mengalami kemunduran sekitar tiga hingga empat dasarian.

Berdasarkan data periode 1991-2010, musim hujan di Bengkulu normalnya mulai turun pada akhir September. Namun, fenomena El Nino yang masih kuat pada 2026 menyebabkan masa kemarau lebih panjang. Alhasil, awal musim hujan diperkirakan bergeser baru terjadi pada Oktober 2026.

Masyarakat Diminta Tahan Diri soal Pembakaran Lahan

Imbauan ini ditujukan agar aktivitas pembukaan lahan atau membakar sampah di tiga kabupaten tersebut ditekan selama musim kemarau kali ini. Langkah itu dinilai krusial untuk mencegah meluasnya karhutla yang bisa berdampak pada kabut asap.

Luhur menambahkan, sebaran titik panas di Bengkulu sebenarnya bisa terjadi di seluruh wilayah provinsi dan berubah dari waktu ke waktu. Kondisi ini bergantung pada cuaca di masing-masing kabupaten atau kota pada periode kemarau.

Titik Panas Satelit Perlu Verifikasi Tim Gabungan

Titik panas yang terdeteksi dari pemantauan satelit pun belum tentu berarti kebakaran. Luhur menyebut panas dari atap bangunan bisa ikut terdeteksi sebagai titik panas, sehingga diperlukan verifikasi oleh tim gabungan pencegahan karhutla.

"Bisa juga panas atap bangunan terdeteksi sebagai titik panas, oleh karena itu perlu diverifikasi lagi," jelasnya.

BMKG meminta pemantauan dan penanganan karhutla dilakukan secara tepat, cepat, dan berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bengkulu.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks