BENGKULU — Emma, ibu asal Birmingham, Inggris, mendonasikan sekitar 57 liter ASI melalui bank ASI setelah putranya lahir dengan sindrom Down dan atresia esofagus. Pengalaman merawat Bert membuat Emma memahami betapa berharganya ASI donor bagi bayi di unit perawatan neonatal. Kisahnya jadi pengingat bahwa donasi ASI bisa menyelamatkan bayi yang tidak cukup mendapat ASI ibunya.
Bert lahir pada November 2025 di Princess Royal Hospital, Telford, dengan sindrom Down dan atresia esofagus. Kelainan bawaan itu membuat kerongkongan Bert tidak tersambung normal ke lambung, sehingga ia butuh penanganan medis khusus sejak hari pertama.
Kondisi tersebut mengubah rutinitas menyusui Emma. Ia harus memerah ASI secara rutin karena Bert belum bisa menyusu langsung seperti bayi lain.
Dari Perjuangan Merawat Bert ke Keputusan Donasi ASI
Selama menjalani perawatan, Emma menyadari produksi ASI-nya jauh melebihi kebutuhan Bert. Ia melihat banyak ibu di ruang neonatal kesulitan memerah ASI dalam jumlah cukup untuk bayinya.
“Saya duduk di sana sambil berpikir bahwa saya akan memiliki banyak sekali ASI untuk dibagikan. Saya melihat banyak ibu yang benar-benar kesulitan memerah ASI mereka. Jadi, saya memutuskan untuk mendonasikan ASI saya bagi bayi-bayi lain di unit perawatan neonatal,” ujar Emma, dikutip dari BBC.
Total ASI yang ia salurkan mencapai sekitar 100 pint atau setara 57 liter. Semua diserahkan lewat bank ASI di Birmingham, bukan dibagikan langsung ke keluarga lain.
Mengapa ASI Donor Penting bagi Bayi di Ruang Neonatal
Tidak semua ibu bisa memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayinya, terutama saat bayi lahir prematur atau dengan berat badan sangat rendah. Di situasi inilah ASI donor yang sudah dipasteurisasi jadi pilihan.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan ASI donor terpasteurisasi untuk bayi dengan berat lahir sangat rendah bila ASI ibu kandung tidak tersedia atau tidak mencukupi. Rekomendasi itu tertuang dalam pernyataan kebijakan AAP soal keamanan ASI donor.
Keamanan ASI donor bergantung pada tiga hal: pemeriksaan kesehatan pendonor, proses pengumpulan dan penyimpanan yang higienis, serta pasteurisasi di bank ASI yang memenuhi standar.
Kenapa Berbagi ASI Langsung ke Tetangga Sebaiknya Dihindari
Memberikan ASI tanpa pemeriksaan dan pengolahan memadai berisiko menularkan bakteri, virus, atau zat tertentu ke bayi penerima. AAP tidak merekomendasikan praktik berbagi ASI informal seperti ini.
Bank ASI melakukan skrining calon pendonor lebih dulu. Setelah lolos, ASI dikumpulkan, disimpan, lalu diproses untuk menekan risiko infeksi sebelum disalurkan ke bayi yang membutuhkan.
Bagi ibu yang tertarik mendonasikan ASI, langkah paling aman adalah menghubungi bank ASI atau tenaga kesehatan terdekat. Mereka akan menjelaskan syarat kesehatan dan ketentuan yang berlaku di wilayah masing-masing.
Bank ASI Birmingham Masih Mencari Pendonor Baru
Ketersediaan ASI donor di Human Milk Bank Birmingham bergantung pada partisipasi ibu menyusui yang memenuhi persyaratan. BBC News menyoroti kebutuhan pendonor tambahan di bank ASI tersebut.
Emma sendiri menyebut pengalaman mendonasikan ASI sebagai kehormatan. “Mengetahui bahwa saya dapat membantu ibu lain, para orang tua, dan bayi-bayi mungil yang berada dalam situasi serupa dengan kami merupakan sebuah kehormatan yang nyata,” tuturnya.
Setiap ibu punya perjalanan menyusui yang berbeda. Bagi yang produksi ASI-nya melimpah, mendonasikan lewat bank ASI bisa jadi cara membantu bayi lain tanpa mengorbankan keamanan siapa pun.