BENGKULU — Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Bengkulu Mohamad Irfan Surya Wardhana mengungkapkan realisasi program pembiayaan ini telah menembus angka fantastis di pertengahan tahun. "Fasilitas pembiayaan UMi telah memberikan manfaat nyata kepada 7.259 debitur di seluruh Provinsi Bengkulu," katanya di Kota Bengkulu, Senin.
Fakta paling mencengangkan dari data tersebut adalah komposisi penerima manfaat. Dari total 7.259 debitur, sebanyak 7.252 orang merupakan perempuan dengan total dana kelolaan mencapai Rp50,05 miliar.
Angka ini merepresentasikan kuatnya gerakan pemberdayaan perempuan di Bengkulu. Para ibu rumah tangga ini terbukti mampu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus pencipta lapangan kerja skala mikro di lingkungannya.
Penyaluran dana UMi tersebut terbagi dalam beberapa sektor ekonomi strategis. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp47,11 miliar yang dinikmati 6.783 debitur.
Sektor pertanian dan kehutanan menyusul di posisi kedua. Dana sebesar Rp2,06 miliar telah tersalur kepada 334 debitur yang mayoritas merupakan petani buah-buahan musiman dan komoditas lokal.
"Ini memperkuat ketahanan pangan daerah," ujar Irfan. Sektor kuliner seperti akomodasi dan makan minum juga menyerap Rp434 juta yang dimanfaatkan 72 debitur pengusaha warung makan dan jajanan lokal.
Penyaluran program UMi di Bengkulu tidak melalui perbankan konvensional, melainkan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi penyalur dominan dengan nilai Rp45,89 miliar kepada 6.592 debitur.
PT Bahana Artha Ventura (BAV) menyalurkan Rp3,95 miliar untuk 651 debitur. Sementara itu, PT Pegadaian mengucurkan Rp175 juta untuk 15 debitur dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Jasa menyalurkan Rp100 juta untuk satu orang debitur.
Komitmen pemerintah dan lembaga penyalur dalam mendorong inklusi keuangan ini menjadi bukti akselerasi ekonomi akar rumput pascapandemi yang semakin kuat. Para debitur perempuan di Bengkulu kini memiliki akses modal tanpa agunan untuk mengembangkan usaha mikro mereka.