BENGKULU TENGAH — Selama tiga bulan, petani di Desa Kembang Seri dan sekitarnya terpaksa mempertaruhkan nyawa setiap kali hendak memanen hasil bumi. Jembatan penghubung di Desa Taba Pasmah sudah dalam kondisi ringsek dan hancur. Namun, karena tidak ada akses alternatif, warga tetap nekat melintas.
“Selalu lewat sini, Pak, kalau mau ke kebun. Kondisinya kurang lebih tiga bulan sudah,” ungkap Ali Kondrin, warga Desa Kembang Seri, dengan nada pilu.
Ali mewakili suara hati para petani yang selama ini bergantung pada jembatan tersebut. Ia menaruh harapan besar agar pembangunan kali ini menghasilkan infrastruktur yang kokoh dan memberikan rasa aman saat dilintasi kendaraan bermuatan hasil bumi. “Terima kasih. Kalau bisa lebih bagus dari ini,” harapnya.
Danrem 041/Gamas Pimpin Peletakan Batu Pertama
Pengerjaan fisik rehabilitasi jembatan resmi dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dipimpin langsung oleh Danrem 041/Gamas, Brigjen TNI Jatmiko Aryanto. Ia menegaskan bahwa kondisi jembatan di Desa Taba Pasmah sudah sangat memprihatinkan sehingga intervensi perbaikan harus dikebut.
“Kondisi juga memang cukup parah, dan saya yakin, percaya, masyarakat sangat membutuhkan untuk perbaikan jembatan ini, termasuk di wilayah lain,” kata Jatmiko Aryanto di lokasi, Jumat (5/6/2026).
Kokoh dengan Cor Beton, Target 36 Titik di Bengkulu
Rehabilitasi infrastruktur ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Jembatan Merah Putih Tahap V dan VI yang digulirkan di berbagai wilayah Provinsi Bengkulu. Pada fase ini, total ada 36 titik jembatan yang ditargetkan rampung. Mayoritas konstruksinya akan dirombak total menggunakan cor beton agar lebih kokoh dan tahan lama.
Jatmiko menegaskan bahwa suksesi proyek sosial ini membutuhkan sinergi dan dukungan penuh dari seluruh elemen. Mulai dari jajaran pemerintah daerah, komitmen TNI, hingga pengawasan melekat dari masyarakat selama proses pengerjaan di lapangan.
“Kita semua bertanggung jawab kepada masyarakat kita, kepada rakyat kita untuk mensejahterakan mereka. Salah satunya adalah perbaikan atau pembangunan jembatan ini,” tambahnya.
Dampak Ekonomi: Akses Panen Kembali Normal
Melalui program bedah infrastruktur ini, akses mobilitas transportasi horizontal masyarakat diharapkan kembali normal. Angka kecelakaan pengguna jalan yang selama ini mengintai akibat jembatan rusak pun dapat ditekan. Lebih dari itu, pemulihan ekonomi warga yang sempat merosot selama tiga bulan terakhir akibat terputusnya akses ke perkebunan kini mulai menemukan titik terang.
Jembatan Taba Pasmah bukan sekadar beton dan besi. Bagi petani di Bengkulu Tengah, jembatan ini adalah urat nadi yang menghubungkan mereka dari ladang ke pasar, dari cemas menjadi tenang.