BENGKULU — Jenderal Listyo tiba di kompleks Pemakaman Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sekitar pukul 09.00 WIB. Ia diterima langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin. Rangkaian acara diawali dengan doa bersama dan tabur bunga di pusara Gus Dur, lalu dilanjutkan dengan prosesi pengalungan surban sebagai simbol penghormatan.
Dua Ketetapan MPR yang Mengubah Struktur Keamanan Negara
Di balik ziarah tersebut, terdapat jejak kebijakan yang fundamental bagi Polri. Pada era kepemimpinan Gus Dur (1999-2001), pemisahan TNI dan Polri dikukuhkan secara konstitusional melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri. Sebelumnya, Polri masih berada di bawah komando TNI.
Kedua ketetapan itu menjadi landasan reformasi sektor keamanan di Indonesia. Polri kemudian berubah status menjadi lembaga sipil yang langsung bertanggung jawab kepada presiden. Langkah ini, menurut catatan sejarah, merupakan bagian dari agenda reformasi yang didorong Gus Dur untuk memperkuat supremasi sipil dalam pemerintahan dan profesionalisme aparat keamanan.
Ziarah Jelang Puncak Hari Bhayangkara ke-80
Kunjungan ke Jombang merupakan salah satu agenda pra-puncak peringatan Hari Bhayangkara yang jatuh pada 1 Juli 2026. Biasanya, rangkaian kegiatan seremonial kepolisian diisi dengan bakti sosial, pengamanan event nasional, hingga ziarah ke makam tokoh bangsa yang dianggap berjasa terhadap institusi.
Pilihan berziarah ke makam Gus Dur dinilai simbolis. Selain dikenal sebagai "Bapak Pluralisme" karena komitmennya terhadap toleransi antaretnis dan agama, sosoknya juga lekat dengan proses transformasi Polri menjadi institusi yang mandiri dan profesional. Dalam beberapa kesempatan, Gus Dur kerap menyuarakan pentingnya polisi yang dekat dengan rakyat dan tidak militeristik.
Gus Kikin: Pesan Perdamaian dan Toleransi
Dalam sambutan singkatnya, Gus Kikin menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kapolri. Ia berharap semangat pluralisme yang diwariskan Gus Dur dapat terus dirawat oleh aparat keamanan di tengah dinamika politik dan sosial yang kerap memanas menjelang tahun politik.
"Semoga Polri semakin profesional dan menjadi pengayom bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan," ujar Gus Kikin kepada awak media di kompleks pesantren.
Jenderal Listyo sendiri enggan memberikan keterangan pers usai ziarah. Ia langsung meninggalkan lokasi menuju agenda berikutnya di Jawa Timur. Namun, kehadirannya di makam Gus Dur mengirim sinyal bahwa institusi Bhayangkara tidak melupakan akar reformasi yang dirintis hampir seperempat abad silam.