BENGKULU — Puluhan dosen dan mahasiswa STIESNU Bengkulu mengikuti kegiatan penguatan wawasan kebangsaan yang berpuncak pada ikrar bersama. Mereka menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk ancaman terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Mengapa Kampus Ikut Bersuara?
Pihak kampus menilai ancaman terhadap NKRI tidak lagi datang dari gerakan separatis bersenjata, melainkan dari narasi intoleransi yang menyusup lewat media sosial. Menurut pengamat politik Universitas Bengkulu, kelompok radikal kini menyasar kampus sebagai ladang rekrutmen ideologi.
STIESNU Bengkulu, sebagai bagian dari jaringan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, memiliki tradisi panjang dalam menjaga moderasi beragama dan nasionalisme. Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi kampus sebagai benteng terakhir ideologi Pancasila.
Isi Ikrar: Tolak Radikalisme hingga Hoaks
Dalam ikrar yang dibacakan, civitas akademika berjanji untuk setia pada UUD 1945, mengamalkan Pancasila, dan menjaga persatuan bangsa. Mereka juga berkomitmen melawan berita bohong atau hoaks yang berpotensi memecah belah masyarakat.
"Kami ingin menjadi agen perubahan yang mencerdaskan, bukan provokator yang memecah belah," ujar Ketua STIESNU Bengkulu dalam sambutannya.
Deklarasi Jadi Awal Gerakan Nyata
Pihak kampus berencana menindaklanjuti deklarasi ini dengan program pengabdian masyarakat bertema wawasan kebangsaan. Mahasiswa akan diterjunkan ke sejumlah kampung di Bengkulu untuk menggelar diskusi tentang bahaya radikalisme.
Langkah ini dinilai strategis mengingat Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang pernah menjadi titik penyebaran jaringan terorisme. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan, kawasan Sumatera bagian selatan masih menjadi wilayah rawan infiltrasi paham ekstrem.