BENGKULU — Diskusi yang digelar di Aula Fakultas Hukum Universitas Bengkulu pada Sabtu lalu itu menghadirkan akademisi dan pengamat hubungan internasional sebagai narasumber. Para mahasiswa diajak membedah dampak perang dagang AS-China serta konflik Rusia-Ukraina terhadap stabilitas ekonomi dan politik Indonesia.
Apa yang Mendorong Mahasiswa Bengkulu Bergerak?
Kekhawatiran akan terkikisnya nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus informasi global menjadi pemicu utama kegiatan ini. Para peserta menilai, mahasiswa tidak boleh menjadi penonton pasif di tengah ketidakpastian dunia.
“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa Bengkulu tidak hanya kritis terhadap isu global, tetapi juga tetap berpijak pada kepentingan nasional,” ujar Koordinator Acara, Andika Pratama, dalam sambutannya.
Isi Diskusi: Bukan Sekadar Teori, tapi Aksi Nyata
Diskusi tidak hanya berputar pada analisis geopolitik. Para peserta juga merumuskan langkah konkret yang bisa dilakukan di lingkungan kampus dan masyarakat. Salah satu poin yang mengemuka adalah pentingnya literasi digital untuk menangkal hoaks yang kerap muncul saat ketegangan global meningkat.
Seorang peserta dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik, Rina Sari, menyatakan bahwa mahasiswa harus menjadi filter informasi. “Jangan sampai kita ikut-ikutan terprovokasi oleh narasi asing yang tidak sesuai dengan kepentingan bangsa,” tegasnya.
Dampak Langsung ke Mahasiswa: Nasionalisme Diuji
Para akademisi yang hadir menekankan bahwa nasionalisme di era global bukan berarti anti terhadap dunia luar. Justru, dengan pemahaman geopolitik yang baik, mahasiswa bisa mengambil peran sebagai jembatan diplomasi dan penguatan ekonomi lokal.
“Sikap kritis harus dibarengi dengan kecintaan pada produk dalam negeri dan kearifan lokal. Itulah wujud nasionalisme yang relevan,” kata narasumber, Dr. Budi Santoso, pengamat hubungan internasional dari Universitas Bengkulu.
Apa Langkah Selanjutnya bagi Mahasiswa Bengkulu?
Pasca diskusi, panitia berencana membentuk forum diskusi rutin yang membahas isu-isu strategis. Forum ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terus mengasah nalar kritis tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk politik global, mahasiswa daerah tetap memiliki peran sentral dalam menjaga keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi ideologis.