Pencarian

Abrasi Telan 712 Hektare Daratan Pesisir Bengkulu dalam 22 Tahun, 109 Desa Terdampak

Kamis, 25 Juni 2026 • 13:47:01 WIB
Abrasi Telan 712 Hektare Daratan Pesisir Bengkulu dalam 22 Tahun, 109 Desa Terdampak
Abrasi pesisir Bengkulu mengikis daratan seluas 712 hektare selama 22 tahun terakhir.

BENGKULU — Ancaman abrasi di pesisir Bengkulu bukan sekadar isu lingkungan. Dalam dua dekade terakhir, daratan seluas lebih dari 700 hektare lenyap digerus gelombang laut. Temuan ini diungkap Yayasan Genesis Bengkulu berdasarkan analisis citra satelit yang dirilis pada 2026.

Kepala Divisi Riset dan Kajian Agraria Yayasan Genesis Bengkulu, Selvia Ayunetra, menyebutkan bahwa hampir 200 kilometer garis pantai Bengkulu saat ini berada dalam kondisi abrasi aktif.

"Berdasarkan hasil kajian kami pada 2026 ini, sepanjang periode 2002 sampai 2024 telah terjadi kehilangan daratan seluas 712,81 hektare yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota," ujar Selvia di Bengkulu, Rabu (24/6/2026).

109 Desa Terdampak, Ratusan Hektare Lenyap

Kajian bertajuk Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu 2026 itu memotret kondisi nyata kawasan pesisir. Dari total panjang garis pantai, 190,24 kilometer di antaranya mengalami abrasi aktif. Artinya, lebih dari separuh pesisir Bengkulu kini berada dalam ancaman langsung pengikisan.

Dampaknya tidak hanya soal hilangnya daratan. Selvia menegaskan abrasi mengancam keselamatan warga yang bermukim di zona pesisir. Sektor perikanan, permukiman, hingga infrastruktur publik ikut tertekan.

"Untuk abrasi sendiri, bahkan sampai beberapa tahun ke depan kita masih akan terus amati, karena ini berkaitan dengan keselamatan Provinsi Bengkulu itu sendiri," kata dia.

Mengapa Abrasi Terus Meluas?

Fenomena ini terjadi akibat pengikisan garis pantai oleh gelombang laut yang berlangsung terus-menerus. Kajian menggunakan citra satelit memungkinkan perubahan garis pantai terdeteksi secara detail dari tahun ke tahun.

Yayasan Genesis Bengkulu menekankan bahwa data ini bukan sekadar catatan. Hasil kajian diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan langkah penanganan yang lebih terukur.

Pendekatan kolaboratif dinilai penting. Sebab, abrasi tidak bisa diatasi oleh satu pihak saja. Pemprov Bengkulu, pemerintah kabupaten/kota, dan komunitas pesisir perlu bergerak bersama.

Pemantauan Berkelanjutan Jadi Kunci

Yayasan Genesis Bengkulu berkomitmen terus memantau perkembangan abrasi secara berkala. Langkah ini untuk memastikan setiap perubahan garis pantai bisa diantisipasi sejak dini.

Selvia menambahkan, persoalan abrasi memiliki dampak luas terhadap keberlanjutan wilayah pesisir. Tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin luas daratan yang hilang akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Bagikan
Sumber: regional.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks