BENGKULU — Praktik adu fisik dan blocking di area kotak penalti saat sepak pojok yang lazim di Premier League seolah mendapat perlawanan di Piala Dunia 2026. FIFA, melalui kepala wasit Pierluigi Collina, telah menerapkan instruksi tegas: tidak ada toleransi untuk hambatan dan pelukan di luar bola yang dirancang menghentikan lawan.
Dua Gol Dianulir, Standar Ekstrem Berlaku
Insiden paling jelas terjadi saat laga Jerman melawan Paraguay. Gol Jonathan Tah dianulir setelah VAR menilai Waldemar Anton sengaja memblokir kiper Orlando Gill. Mantan manajer Liverpool, Jurgen Klopp, yang menjadi komentator saat itu, langsung mengaitkannya dengan Arsenal.
"Jika gol seperti itu ilegal, maka Arsenal tidak akan jadi juara Inggris," ujar Klopp, merujuk pada 19 gol dari sepak pojok yang dicetak The Gunners musim lalu. Spanyol juga kebobolan gol serupa saat Pau Cubarsi dianggap melanggar kiper Austria, Alexander Schlager.
Dari 'Adegan Perkelahian' ke Zona Eksklusif Kiper
BBC Sport melaporkan bahwa di level tertinggi perwasitan, sepak pojok musim lalu telah berubah menjadi "adegan perkelahian" dan "bukan sepak bola sejati". Collina menginginkan zona eksklusif di kotak enam yard untuk kiper. Akibatnya, angka gol dari sepak pojok di Piala Dunia turun drastis menjadi 0,34 per pertandingan, jauh di bawah Premier League yang mencapai 0,49.
Mantan gelandang Jerman, Thomas Hitzlsperger, menyebut perubahan ini sebagai "kebalikan ekstrem" dari apa yang ia saksikan setiap pekan di Premier League. "Tidak ada kiper yang protes. FIFA mengubah pendekatan dan kontak apa pun menguntungkan kiper," katanya.
Metode Latihan Wasit Semi-Pro, Mungkinkah Ditiru?
Untuk memastikan konsistensi, FIFA menyiapkan 51 wasit dan 88 asisten wasit di kamp pelatihan Miami. Mereka berlatih melawan pemain semi-profesional yang sengaja didrill untuk meniru pola permainan dan skema sepak pojok tim nasional. Metode simulasi ini dinilai lebih efektif daripada sekadar membaca diagram.
Premier League, meski memiliki analisis detail tim lawan, tidak memiliki lingkungan terkontrol seperti turnamen. Manajer Everton, David Moyes, pernah mengeluh pada Februari lalu bahwa "wasit benar-benar tidak mau terlibat dalam semua itu." Kini, tantangannya adalah apakah liga paling kompetitif di dunia itu siap mengikuti jejak FIFA untuk mengembalikan sepak pojok ke esensinya sebagai umpan silang, bukan gulat bebas.