Pencarian

Rupiah Terperosok ke Rp17.862 per Dolar AS: Harga Minyak dan Konflik Iran Jadi Biang Kerok

Selasa, 18 Agustus 2026 • 16:46:31 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp17.862 per Dolar AS: Harga Minyak dan Konflik Iran Jadi Biang Kerok
Petugas menunjukkan pergerakan kurs rupiah di sebuah bank di Bengkulu, Selasa (18/6/2025).

BENGKULU — Pelemahan rupiah kali ini bukan sekadar sentimen pasar sesaat. Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya yang dirilis Selasa (18/6), menyebut ada dua tekanan besar yang datang bersamaan dari eksternal dan internal.

Faktor Eksternal: Ketegangan Iran-AS dan Ancaman Gangguan Pasokan Energi

Pemicu utama gejolak pasar adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Washington bahkan mengklaim memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi pasokan minyak dunia.

Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang serius.

"Trump menegaskan kembali bahwa AS memegang kendali penuh atas Hormuz dan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, klaim yang keduanya dibantah oleh pihak Iran," kata Ibrahim.

Ketegangan kian meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim kembali menyerang kapal militer dan empat kapal pengawal Saudi di Laut Merah menggunakan rudal. Sementara itu, Iran dan Oman disebut telah mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, namun belum ada kesepakatan konkret.

Dampak Domestik: Kebutuhan Devisa Impor Energi Meningkat

Dari dalam negeri, dampaknya langsung terasa pada neraca devisa. Dengan harga minyak mentah yang bertahan di atas USD83 per barel, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi otomatis membengkak.

Permintaan dolar yang tinggi untuk transaksi energi di pasar global ini berpotensi semakin memperkuat posisi mata uang AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Yang Perlu Diperhatikan: Sinyal The Fed dan Risalah FOMC

Risiko inflasi akibat kenaikan harga energi membuat pelaku pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun. Hal ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Hasil risalah tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks