Pencarian

Adat Pernikahan Bengkulu: 10 Tahapan Prosesi, Tradisi Melemang, hingga Kain Besurek

Kamis, 10 September 2026 • 11:43:01 WIB
Adat Pernikahan Bengkulu: 10 Tahapan Prosesi, Tradisi Melemang, hingga Kain Besurek
Prosesi adat pernikahan Bengkulu melibatkan keluarga, pemangku adat, dan masyarakat dalam rangkaian tradisi.

BENGKULU — Adat pernikahan Bengkulu memuat rangkaian tradisi yang mempertemukan keluarga, pemangku adat, agama, dan masyarakat dalam satu peristiwa besar. Dalam dokumen pemerintah Provinsi Bengkulu, setidaknya tercatat sepuluh tahapan perkawinan, mulai dari memadu rasan, mengantar uang, bertunangan, berdabung, bimbang gendang, khatam Al-Qur'an, akad nikah, bersanding, sampai mandi rendai.

Pernikahan tidak semata dimaknai sebagai penyatuan dua individu, melainkan juga pertemuan dua keluarga besar yang lalu membangun hubungan sosial baru. Karena Bengkulu dihuni berbagai kelompok budaya, antara lain masyarakat Melayu Bengkulu, Rejang, Serawai, dan kelompok lainnya, setiap wilayah memiliki nama, urutan, serta perlengkapan prosesi yang berbeda.

Oleh sebab itu, adat pernikahan Bengkulu lebih tepat dipahami sebagai kumpulan tradisi yang hidup di sejumlah wilayah, bukan satu prosesi yang seragam. Kekayaan inilah yang membuatnya menarik ditelusuri dari tahap persiapan hingga pesta usai.

Mengapa Adat Pernikahan Bengkulu Beragam?

Perbedaan tradisi perkawinan Bengkulu berkaitan erat dengan keberagaman masyarakat yang tinggal di dalamnya. Profil resmi Provinsi Bengkulu mencatat setiap kelompok masyarakat memiliki sistem adat sendiri. Pengaruh Melayu, Minangkabau, serta sejarah hubungan antardaerah turut membentuk kebudayaan setempat, termasuk adat perkawinan.

Faktor yang membentuk perbedaan adat tersebut meliputi:

  • Suku dan wilayah: tradisi Rejang tidak selalu sama dengan tradisi Serawai atau Melayu Bengkulu.
  • Kedudukan keluarga: keluarga dengan posisi adat tertentu dapat memiliki perlengkapan dan tata cara khusus.
  • Agama: mayoritas masyarakat Bengkulu beragama Islam sehingga akad dan kegiatan keagamaan menjadi bagian penting.
  • Sejarah lokal: hubungan perdagangan dan migrasi ikut memperkaya bentuk tradisi.
  • Kesepakatan keluarga: sebagian tahapan dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga tanpa menghilangkan inti adat.

Pemahaman ini penting ketika mempersiapkan pernikahan bernuansa tradisional. Tata cara dari satu kabupaten sebaiknya tidak langsung diterapkan di wilayah lain tanpa berkonsultasi dengan keluarga dan pemangku adat setempat.

Tahap Memadu Rasan: Membuka Pembicaraan Keluarga

Sebelum pesta dan akad, ada tahap yang menempatkan keluarga sebagai pihak penting dalam menentukan arah hubungan. Dalam dokumentasi Pemerintah Provinsi Bengkulu, upacara memadu rasan atau barasan berkaitan dengan pembicaraan antara pihak laki-laki dan pihak perempuan mengenai kecocokan pasangan.

Tahap ini menunjukkan perkawinan dipandang sebagai urusan keluarga, bukan semata keputusan dua individu. Hal yang biasanya dibicarakan mencakup kesediaan kedua keluarga, rencana waktu perkawinan, bentuk acara yang akan diselenggarakan, tanggung jawab masing-masing pihak, kebutuhan adat dan perlengkapan, serta persiapan menuju pertunangan atau pernikahan.

Nilai penting dari tahap ini adalah musyawarah. Pernikahan menjadi ruang untuk mempertemukan dua keluarga sebelum hubungan tersebut diresmikan.

Mengantar Uang dan Bertunangan

Setelah pembicaraan awal mencapai kesepakatan, rangkaian dapat dilanjutkan dengan pemberian atau pengantaran uang sesuai adat setempat. Dokumen pemerintah daerah menjelaskan mengantar uang sebagai prosesi ketika pihak laki-laki menyerahkan sejumlah uang kepada pihak perempuan. Selanjutnya, pertunangan menjadi tanda bahwa pasangan telah bersepakat menuju kehidupan bersama.

Makna sosial tahap ini antara lain menunjukkan keseriusan pihak laki-laki, mempertemukan keluarga secara lebih resmi, menjadi kesempatan menyepakati kebutuhan pernikahan, memperjelas rencana pelaksanaan acara, serta menguatkan hubungan antarkerabat. Besaran atau bentuk pemberian tidak tepat disamaratakan karena dapat berbeda menurut keluarga, daerah, dan kesepakatan yang berlaku.

Berdabung: Tradisi yang Berkaitan dengan Pengantin Perempuan

Salah satu tahapan yang menarik adalah berdabung. Dalam dokumentasi pemerintah Provinsi Bengkulu, berdabung merupakan prosesi mengikir gigi mempelai perempuan sebelum dipertemukan dengan pihak mempelai laki-laki.

Tradisi ini menunjukkan persiapan pengantin pada masa lalu tidak hanya berupa busana dan dekorasi. Tubuh, penampilan, serta kesiapan sosial calon pengantin juga dapat menjadi bagian dari rangkaian adat.

Cara memahami tradisi berdabung saat ini: pahami terlebih dahulu konteks sejarahnya, jangan mengubahnya menjadi sekadar atraksi, libatkan keluarga atau pemangku adat, jelaskan maknanya kepada generasi muda, dan jika praktik fisiknya tidak lagi dilakukan, dokumentasi sejarah tetap dapat dipertahankan. Dengan pendekatan tersebut, tradisi dapat dikenalkan tanpa kehilangan rasa hormat.

Bimbang Gendang: Meriahnya Persiapan Pernikahan

Bimbang gendang membawa suasana pernikahan ke tahap yang lebih meriah. Dalam dokumentasi adat Provinsi Bengkulu, bimbang gendang berkaitan dengan kegiatan berhias pengantin dan mempersiapkan berbagai kebutuhan, termasuk kamar pengantin dan pelaminan. Nama "gendang" juga mengisyaratkan kuatnya unsur musik dan keramaian dalam perayaan.

Bagian yang perlu dipersiapkan meliputi pelaminan, kamar pengantin, busana pengantin, musik tradisional atau hiburan, hidangan keluarga dan tamu, tata ruang untuk keluarga, penyambutan rombongan, serta dokumentasi prosesi. Pada tahap ini, pesta mulai terasa sebagai kegiatan masyarakat. Rumah keluarga bukan lagi sekadar tempat tinggal, tetapi berubah menjadi pusat pertemuan kerabat.

Khatam Al-Qur'an dan Akad Nikah

Unsur agama menjadi bagian penting dalam rangkaian perkawinan masyarakat Bengkulu yang beragama Islam. Dokumentasi pemerintah daerah mencatat khatam Al-Qur'an dilakukan oleh mempelai perempuan sebelum pernikahan, sedangkan akad nikah dilaksanakan di hadapan penghulu.

Akad menjadi titik pengesahan pernikahan secara agama, sementara seluruh rangkaian adat memberi ruang bagi keluarga dan masyarakat untuk merayakan terbentuknya rumah tangga baru. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Adat dan agama justru dapat berjalan berdampingan selama pelaksanaannya sesuai aturan agama serta kesepakatan adat setempat.

Bersanding dan Mandi Rendai

Setelah akad, pasangan memasuki fase perayaan dan pengenalan sebagai pasangan suami istri kepada masyarakat. Bersanding menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali karena kedua mempelai duduk di pelaminan dan menerima tamu. Dokumentasi pemerintah Provinsi Bengkulu menyebut adanya pertunjukan tarian sebagai bagian dari hiburan dalam prosesi bersanding. Setelah rangkaian tersebut selesai, terdapat pula upacara mandi rendai.

Suasana yang dibangun mencakup pengantin tampil dalam busana adat, keluarga menerima tamu, seni pertunjukan menghidupkan suasana, hidangan disajikan kepada kerabat, dan masyarakat ikut menjadi bagian dari perayaan. Di sinilah pernikahan berubah dari urusan keluarga menjadi peristiwa sosial.

Tradisi Melemang dalam Perkawinan Bengkulu

Di wilayah tertentu, makanan tradisional bahkan mempunyai fungsi sosial dalam rangkaian perkawinan. Tradisi Melemang merupakan contoh penting. Dokumentasi Warisan Budaya Takbenda mencatat lemang digunakan dalam berbagai tahapan perkawinan masyarakat Bengkulu, termasuk sebagai bawaan pihak laki-laki. Lemang juga dapat menjadi penanda atau pemberitahuan kepada masyarakat bahwa pesta perkawinan akan berlangsung.

Fungsi lemang dalam tradisi ini antara lain menjadi bagian dari bawaan perkawinan, simbol penjemputan pengantin perempuan, sarana mengundang masyarakat, menunjukkan keterlibatan keluarga besar, dan makanan yang dibagikan kepada masyarakat.

Dalam tradisi tertentu di Tanjung Kemuning, dokumentasi Warisan Budaya Takbenda bahkan mencatat jumlah lemang yang berbeda untuk beberapa tahapan, termasuk saat perundingan, pengantaran pengantin laki-laki, dan setelah resepsi. Hal tersebut memperlihatkan makanan tradisional dapat berfungsi sebagai "bahasa adat". Lemang bukan sekadar hidangan, tetapi membawa pesan sosial.

Kain Besurek dalam Pernikahan Bengkulu

Selain makanan, kain juga mempunyai posisi penting dalam ritual perkawinan. Kain Besurek merupakan salah satu identitas budaya Bengkulu yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Dokumentasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat penggunaannya dalam rangkaian perkawinan, termasuk pada pengapit pengantin pria, pengantin perempuan dalam prosesi tertentu, dan sebagai hiasan pada bilik pengantin.

Penggunaan yang dapat ditemukan meliputi pelengkap busana, hiasan ruang pengantin, kelengkapan prosesi tertentu, dan bagian dari dekorasi tradisional. Karakter kain Besurek terletak pada motif dan tulisan yang menjadi ciri visualnya. Karena itu, penggunaannya dapat memperkuat identitas Bengkulu dalam pernikahan modern.

Adat Pernikahan Bengkulu dalam Pernikahan Modern

Perubahan zaman membuat sebagian keluarga memilih bentuk yang lebih sederhana, tetapi unsur utama tetap dapat dipertahankan. Adat tidak harus diterapkan dengan seluruh rangkaian lama jika keluarga telah mencapai kesepakatan mengenai bentuk pelaksanaan. Yang penting adalah mengetahui bagian mana yang bersifat inti, simbolis, atau dapat disederhanakan.

Contoh konsep pernikahan modern sederhana mencakup memadu rasan, pertunangan, akad nikah, bersanding, penggunaan kain Besurek sebagai aksen, dan hidangan tradisional. Sementara konsep adat lengkap meliputi memadu rasan, mengantar uang, bertunangan, berdabung sesuai tradisi keluarga, bimbang gendang, khatam Al-Qur'an, akad, bersanding, dan mandi rendai. Urutan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan adat kabupaten, suku, dan keluarga masing-masing.

Cara Menyiapkan Pernikahan Adat Bengkulu

Pernikahan tradisional membutuhkan koordinasi lebih panjang dibanding pesta biasa. Enam hal yang perlu dipastikan: tentukan suku dan adat rujukan yang akan digunakan; libatkan BMA atau pemangku adat sejak tahap awal; susun urutan prosesi tertulis; tentukan pihak yang bertanggung jawab pada setiap acara; persiapkan perlengkapan seperti kain, pakaian, hidangan, dan musik; serta pisahkan prosesi adat, akad, dan resepsi dalam jadwal agar tamu memahami alurnya.

Badan Musyawarah Adat Provinsi Bengkulu memang memiliki fungsi penting dalam mengawal kegiatan yang berkaitan dengan prosesi adat di kabupaten/kota. Pemerintah Provinsi juga menekankan peran BMA dalam kegiatan tersebut.

Mengapa Tradisi Pernikahan Perlu Dilestarikan?

Pernikahan adalah salah satu ruang paling efektif untuk menjaga tradisi karena melibatkan keluarga lintas generasi. Namun pelestarian tidak cukup hanya dengan memakai pakaian adat pada hari pesta.

Bentuk pelestarian yang lebih bermakna antara lain menjelaskan arti setiap prosesi kepada calon pengantin, mendokumentasikan cerita orang tua dan pemangku adat, menggunakan makanan tradisional dalam jumlah yang sesuai, memberi ruang bagi seniman lokal, mengundang generasi muda untuk terlibat, serta mendokumentasikan istilah adat sebelum semakin jarang digunakan. Dengan cara ini, tradisi tidak berhenti sebagai dekorasi pernikahan.

FAQ

Apakah semua daerah Bengkulu memiliki prosesi pernikahan yang sama?
Tidak. Bengkulu memiliki keragaman kelompok budaya dan sistem adat. Tradisi Rejang, Serawai, Melayu Bengkulu, dan daerah lainnya dapat mempunyai perbedaan.

Apa itu memadu rasan?
Memadu rasan atau barasan merupakan tahap pembicaraan keluarga mengenai kecocokan pasangan sebelum pernikahan.

Apa fungsi lemang dalam perkawinan?
Dalam tradisi melemang, lemang dapat menjadi bawaan perkawinan, simbol penjemputan, serta sarana pemberitahuan kepada masyarakat mengenai pesta yang akan berlangsung.

Apa itu bimbang gendang?
Bimbang gendang merupakan rangkaian persiapan dan perayaan perkawinan yang berkaitan antara lain dengan berhias pengantin, kamar pengantin, dan pelaminan.

Apakah kain Besurek dapat digunakan dalam pernikahan modern?
Dapat. Secara historis kain Besurek memang digunakan dalam berbagai upacara adat, termasuk sejumlah bagian dalam rangkaian perkawinan Bengkulu.

Penutup

Pernikahan di Bengkulu bukan hanya tentang pelaminan dan pesta sehari semalam. Ada musyawarah keluarga, lemang yang membawa kabar, kain yang menyimpan identitas, serta prosesi yang mempertemukan adat dan agama.

Semakin dipahami, semakin terasa bahwa adat pernikahan Bengkulu sebenarnya adalah cara masyarakat merayakan lahirnya sebuah keluarga sambil menjaga hubungan dengan keluarga besar dan warisan leluhur.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks