BENGKULU — Setiap kali anak diberi antibiotik yang sebenarnya tidak dibutuhkan, peluang munculnya bakteri kebal obat meningkat. Bakteri ini bisa menular ke orang lain dan membuat infeksi jadi lebih sulit diobati.
Penelitian terbaru dari Spain National Research Council (CSIC) menunjukkan bahwa ASI punya peran penting dalam menekan penyebaran bakteri resisten tersebut. Komponen alami dalam ASI membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus bayi.
Apa Itu Resistensi Antibiotik dan Mengapa Berbahaya
Antibiotik memang bermanfaat untuk melawan infeksi bakteri. Namun, penggunaan yang berlebihan atau tidak tepat justru bisa mengubah bakteri sehingga obat tersebut tidak lagi ampuh melawannya.
Dr Harvey Karp, dokter anak, menjelaskan proses ini terjadi bertahap. "Ketika kita menggunakan antibiotik, kita membunuh 99 persen kuman yang sensitif. Tetapi ketika beberapa kuman sedikit lebih kuat dan lebih mampu bertahan hidup dengan dosis antibiotik, mereka tumbuh dengan sangat cepat. Ketika mereka terkena antibiotik lagi, 10 persen kuman terkuatlah yang bertahan hidup," jelasnya.
Jika terjadi berulang kali, bakteri akan bermutasi dan semakin kuat. Bukan anak yang menjadi kebal antibiotik, melainkan bakteri di dalam tubuhnya yang resisten. CDC menyebut kondisi ini sebagai salah satu ancaman paling mendesak bagi kesehatan masyarakat.
Temuan Studi: ASI Kurangi Gen Resistensi di Usus Bayi
Studi yang dipublikasikan di Cell Reports Medicine menganalisis sampel feses dari 57 bayi berusia satu bulan di Valencia, Spanyol, serta sampel susu dari ibu mereka. Hasilnya divalidasi dengan data 199 bayi menyusui lain di Belanda.
Peneliti menemukan bahwa menyusui eksklusif berhubungan dengan kelimpahan dan keragaman gen resistensi antimikroba yang lebih rendah di usus bayi. Artinya, semakin bayi mendapat ASI secara eksklusif, semakin sedikit bakteri pembawa gen resisten yang berkembang di saluran cernanya.
"Menyusui tampaknya jadi strategi efektif dalam mengurangi gen resistensi antimikroba yang ada di komunitas bakteri usus selama tahap krisis dalam perkembangan mikrobiota," ujar M. Carmen Collado, peneliti di CSIC Institute of Agrochemistry and Food Technology (IATA).
Peran HMO dalam Menekan Bakteri Resisten
Kunci manfaat ini terletak pada human milk oligosaccharides (HMO), molekul alami dalam ASI yang tidak langsung dicerna bayi. HMO berfungsi sebagai makanan bagi bakteri usus yang bermanfaat dan membantu menjaga mikrobiota tetap seimbang.
Dalam penelitian tersebut, beberapa komponen HMO dikaitkan dengan rendahnya keberadaan gen yang memberi resistensi terhadap antibiotik. HMO bekerja seperti modulator ekologis di usus bayi.
"HMO bertindak sebagai modulator ekologis mikrobiota usus di mana mereka mendorong pertumbuhan mikroorganisme yang mampu menggunakannya dan dapat membatasi penyebaran bakteri yang membawa gen resistensi tertentu," kata Collado.
Cara Lahir dan Pemberian Makan Ikut Berpengaruh
Studi yang sama mencatat bahwa cara bayi dilahirkan turut menentukan komposisi resistom usus, yaitu kumpulan gen resistensi antimikroba pada bakteri usus. Peneliti menemukan perbedaan keragaman gen antara bayi yang lahir melalui operasi caesar dan persalinan normal.
Menyusui eksklusif secara konsisten dikaitkan dengan kelimpahan gen resistensi yang lebih rendah dibandingkan pemberian susu formula. Temuan ini memperkuat rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Yang Perlu Ibu Perhatikan
Resistensi antibiotik bukan masalah yang bisa diabaikan. Setiap kali anak sakit, tanyakan ke dokter apakah antibiotik benar-benar diperlukan. Jangan memberi antibiotik sisa resep lama atau memaksakan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan virus, seperti flu biasa.
Bagi ibu yang sedang menyusui, temuan ini bisa jadi tambahan semangat. ASI bukan hanya sumber nutrisi lengkap, tetapi juga mendukung sistem pertahanan tubuh bayi dari dalam, termasuk melawan penyebaran bakteri resisten di ususnya.