Pencarian

Kapasitas Energi Terbarukan AS Diprediksi Salip Gas Alam pada Musim Panas 2027

Minggu, 30 Agustus 2026 • 00:42:01 WIB
Kapasitas Energi Terbarukan AS Diprediksi Salip Gas Alam pada Musim Panas 2027
Kapasitas energi terbarukan dan baterai penyimpanan di AS diproyeksikan bertambah 82,9 GW hingga Juni 2027, sementara kapasitas fosil dan nuklir turun 3,1 GW.

BENGKULU — Laporan bulanan EIA yang dirilis pekan ini dan dikaji ulang oleh SUN DAY Campaign memproyeksikan tambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 82,9 gigawatt (GW) dari energi terbarukan dan baterai penyimpanan hingga 30 Juni 2027. Pada periode yang sama, total kapasitas bahan bakar fosil dan nuklir justru diprediksi turun 3,1 GW.

Pembangkit Surya Jadi Motor Utama Pertumbuhan

Antara Juli 2025 dan Juni 2026, kapasitas solar skala utilitas bertambah 28.076,7 MW. Solar atap skala kecil menyumbang tambahan 6.492 MW, dan angin tumbuh 10.552,9 MW termasuk 800 MW lepas pantai. Adapun baterai penyimpanan skala utilitas meningkat 17.858,8 MW dalam periode yang sama.

Kapasitas batubara turun 3.993,6 MW dan nuklir menyusut 28,2 MW. Namun gas alam masih tercatat naik 7.529,8 MW, membuat persaingan puncak kapasitas antara keduanya semakin ketat.

Kontribusi Listrik Terbarukan Tembus 30 Persen

Pada paruh pertama 2026, pembangkit listrik dari energi terbarukan tumbuh 10,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan terbesar datang dari solar skala utilitas yang naik 21,6 persen, disusul solar atap 13 persen, hidro 10,1 persen, dan angin 6,5 persen.

Kombinasi angin dan surya kini memasok 22,3 persen kebutuhan listrik domestik AS. Pada Juni 2026 saja, pembangkit surya menghasilkan listrik lebih banyak dibanding gabungan angin dan hidro, menjadikannya sumber energi terbarukan terbesar untuk bulan tersebut.

Sepanjang Januari–Juni 2026, gabungan angin dan surya memproduksi listrik 58 persen lebih banyak dari batubara dan 28 persen lebih tinggi dari nuklir. Total seluruh energi terbarukan, termasuk biomassa dan panas bumi, mencapai 30,2 persen dari bauran listrik nasional, naik dari 27,8 persen setahun sebelumnya.

Kapasitas Surya Naik Lebih dari Sembilan Kali Lipat dalam Satu Dekade

Pangsa energi terbarukan dalam bauran listrik AS kini hampir dua kali lipat dibanding Juni 2016 yang hanya 16,9 persen. Lima tahun lalu, angkanya baru 22,4 persen. Kapasitas solar terpasang sejak pertengahan 2016 meningkat lebih dari sembilan kali lipat—skala utilitas tumbuh 11 kali dan sistem atap naik enam kali.

Dalam lima tahun terakhir saja, kapasitas gabungan solar skala utilitas dan atap hampir tiga kali lipat atau naik 274 persen. Kapasitas angin tumbuh 32,7 persen dalam periode yang sama dan lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade.

Sementara itu, kapasitas baterai penyimpanan skala utilitas yang pada 2016 terlalu kecil untuk dilaporkan EIA, kini mencapai 51.665,7 MW per akhir Juni 2026—hampir 20 kali lipat dibanding 2.651,5 MW pada pertengahan 2021.

Proyeksi 12 Bulan ke Depan: 54 GW Tambahan Kapasitas

EIA memperkirakan pangsa energi terbarukan dalam kapasitas pembangkit skala utilitas AS naik dari 34,3 persen menjadi 37,1 persen pada Juni 2027. Solar skala utilitas akan menambah 43.649,2 MW, sementara angin tumbuh 10.216,8 MW termasuk 4.165 MW lepas pantai. Hidro, biomassa, dan panas bumi menambah 259,7 MW.

Total pertumbuhan bersih kapasitas energi terbarukan skala utilitas sebesar 54.125,7 MW itu 41 persen lebih tinggi dibanding periode 12 bulan sebelumnya. EIA juga mencatat tidak ada tambahan kapasitas nuklir baru dan penurunan bersih 3.143,4 MW kapasitas bahan bakar fosil.

Dengan asumsi pertumbuhan solar atap konservatif 6.400 MW per tahun, kapasitas gabungan seluruh energi terbarukan dipastikan melampaui gas alam sebelum musim panas 2027 berakhir.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks