BENGKULU — Telkomsel 5G memakai kecerdasan buatan untuk memetakan karakter pengguna internet dan mengoptimalkan jaringan berdasarkan lima metrik konektivitas, dari latensi hingga packet loss. Diskusi bertema "Powered by AI: Dekatnya Nyata, Pintarnya Terasa" menghadirkan Manager Network VIP and HVC Management Jabotabek Telkomsel Muhammad Hidaya Rido Tarigan, Redaktur detikINET Agus Tri Haryanto, konten kreator Oza Rangkuti, dan streamer Abi Azkakia. Pendekatan ini jadi kunci operator menghadapi trafik yang makin beragam, dari streaming hingga AI generatif.
"Jadi bagaimana kita mendeteksi karakter pelanggan, bagaimana kita mendeteksi keramaian jaringan di mode tertentu gitu ya, seperti pergi pulang kerja atau tadi ada konser gitu ya, bagaimana kita bisa mengoptimalkan pelanggan-pelanggan tadi menggunakan AI kita," jelas Rido dalam diskusi Ngobrolin Peristiwa Informasi & Teknologi (Ngopi) Bersama Telkomsel 5G.
Lima Metrik yang Jadi Patokan Operator
Dari sisi jaringan, Rido menyebut ada lima parameter yang terus disesuaikan: download throughput, upload throughput, latensi, jitter, dan packet loss. Kelima metrik itu yang menentukan apakah konektivitas terasa stabil dan lancar di tangan pengguna.
Penyesuaian dilakukan karena kebutuhan tiap pengguna berbeda. Penonton video lebih bergantung pada kemampuan download, sementara kreator yang mengunggah file besar butuh upload. Adapun gamer menuntut latensi rendah.
"Jadi, kita harus mendiferensiasikan masing-masing pengguna," ujar Rido.
Bukan Sekadar Cepat, tapi Stabil
Redaktur detikINET Agus Tri Haryanto menilai kebutuhan internet saat ini tidak lagi soal kecepatan semata. Konten AI dan video streaming resolusi besar menuntut koneksi yang stabil, bukan hanya deras.
"Kalau sekarang kan adanya konten AI seperti AI kan, atau enggak video streaming butuh yang resolusi besar, itu butuh sangat koneksi yang enggak hanya cepat, tapi stabil juga kan," kata Agus.
Latensi rendah juga krusial untuk live streaming dan live report jurnalistik. Agus menyoroti pentingnya pengiriman informasi secara cepat dan tepat tanpa koneksi yang terputus-putus.
AI Bantu Operator Deteksi Titik Ramai
Menurut Agus, AI dibutuhkan operator untuk mendeteksi titik keramaian dan menyesuaikan kapasitas jaringan dengan kebutuhan pengguna. Pemanfaatan AI tidak berhenti di sisi konsumen untuk membuat foto atau video.
Rido memberi gambaran praktis penggunaan AI dan 5G dalam aktivitas harian. Pengguna cukup mengunggah foto ke layanan AI lewat jaringan 5G Telkomsel, mengetik prompt, lalu mengirimnya.
"Ini cukup foto, upload ke AI dengan jaringan 5G Telkomsel gitu ya, kita ketik prompt, jadi. Langsung kita kirim, enggak nyampe 5 menit prosesnya gitu ya," ungkap Rido.
Kebutuhan Kreator dan Streamer
Konten kreator Oza Rangkuti menempatkan stabilitas koneksi sebagai kebutuhan utama, terutama saat mengirim file berukuran besar. AI juga memangkas waktu produksi kontennya.
"Memangkas waktu lumayan. Bisa jadi beberapa jam doang udah bisa beres satu video gitu," tutur Oza.
Bagi streamer Abi Azkakia, koneksi adalah hal pertama yang diperiksa sebelum live streaming. Sebagai pelaku multi-streaming, ia membutuhkan bandwidth besar, sekitar 500 Mbps hanya untuk keperluan siaran langsung.
Rido menyebut tambahan spektrum membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Teknologi 2600 yang diperoleh melalui tambahan spektrum dapat memberikan kapasitas di atas 1 Gbps, cukup untuk melayani kebutuhan 500 Mbps seorang streamer.
Harapan Pemerataan 5G
Para narasumber menyoroti pentingnya pemerataan jaringan 5G agar pengalaman konektivitas cepat dan stabil tidak berhenti di kota besar. Agus berharap 5G bisa merata seperti 4G.
"Harapannya tetap 5G itu bisa merata seperti 4G gitu kan," kata Agus.
Tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz disebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan tersebut. Bagi pelaku bisnis digital dan investor, arah ini menandakan persaingan operator kini bergeser dari sekadar kecepatan ke kualitas pengalaman jaringan yang dipersonalisasi lewat AI.