Pencarian

100 Generasi Muda Bengkulu Ikuti Workshop Likuk, Belajar Pantun dan Permainan Kata agar Tradisi Lisan Tak Punah

Jumat, 21 Agustus 2026 • 16:42:31 WIB
100 Generasi Muda Bengkulu Ikuti Workshop Likuk, Belajar Pantun dan Permainan Kata agar Tradisi Lisan Tak Punah
generasi muda Bengkulu mengikuti Workshop Likuk di Aula Raflesia Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, Kamis (20/8/2026).

Sebanyak 100 peserta yang terdiri dari Duta/Bujang Gadis Bengkulu dan pelajar mengikuti Workshop Likuk "Belajar Bahasa dan Mengenal Tradisi Likuk" di Aula Raflesia Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini digagas IMAGI CREAT PROJECT bersama Dinas Pariwisata Kota Bengkulu dan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu untuk menghidupkan kembali tradisi lisan yang mulai jarang ditemui di tengah masyarakat.

BENGKULU — Tradisi lisan Likuk yang sarat dengan permainan kata, pantun, dan seni tutur khas Bengkulu kembali dihidupkan melalui workshop khusus bagi generasi muda. Kegiatan yang berlangsung di Aula Raflesia Balai Bahasa Provinsi Bengkulu ini tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga praktik langsung menyusun pantun dan bermain kata.

Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Mereka tidak sekadar mendengarkan pemaparan sejarah, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan narasumber untuk mempraktikkan pola permainan kata khas Likuk.

Praktik Langsung Jadi Kunci Agar Budaya Hidup, Bukan Sekadar Cerita

Dr. Muhammad Nikman Naser, M.Pd., selaku narasumber menegaskan bahwa pendekatan langsung menjadi cara efektif mendekatkan anak muda dengan tradisi lokal. Menurutnya, budaya akan lebih mudah diterima apabila generasi muda diberi kesempatan mempraktikkannya secara langsung.

"Generasi muda perlu diajak berinteraksi langsung dengan budayanya. Menghadirkan ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan teoritis dengan praktik secara nyata adalah kunci agar tradisi seperti Likuk ini dipahami sebagai budaya yang hidup, bukan sekadar cerita masa lalu," ujarnya.

Pendampingan praktik juga diberikan oleh Sucerik Bae atau Dedy Suryadi. Ia membimbing peserta memahami pola permainan kata dan pantun Likuk dengan metode komunikatif, membuat suasana aula semakin hidup dan meriah.

Dukungan Pemkot: Likuk Berpeluang Jadi Atraksi Wisata dan Ekonomi Kreatif

Pelestarian tradisi ini mendapat angin segar dari Pemerintah Kota Bengkulu. Asisten I Kota Bengkulu Alex Periansyah menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga identitas budaya daerah dalam sambutannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu Nina Nurdin menilai Likuk memiliki peluang besar untuk dikembangkan bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan atraksi wisata berbasis tradisi lokal.

"Kami sangat menyambut baik inisiatif pengenalan kembali tradisi Likuk kepada generasi muda. Likuk tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga potensi atraksi ekonomi kreatif dan daya tarik pariwisata berbasis tradisi lokal," kata Nina.

Menurutnya, keterlibatan Bujang Gadis dan pelajar merupakan langkah strategis. Mereka dapat berperan sebagai generasi penerus sekaligus agen pengenalan budaya Bengkulu kepada masyarakat yang lebih luas.

Balai Bahasa: Likuk Media Alami Pertahankan Kosakata Bahasa Daerah

Kepala Balai Bahasa Provinsi Bengkulu menyoroti keterkaitan erat antara tradisi lisan dan keberlangsungan bahasa daerah. Likuk dinilai menjadi salah satu media alami untuk mempertahankan kosakata serta nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa daerah Bengkulu.

Nuansa budaya dalam workshop semakin terasa dengan penampilan Syarafal Anam dari Sanggar Seni dan Tradisi Singaran Pati. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sekaligus memperlihatkan keberagaman seni tradisional yang tumbuh di Bengkulu.

Buko Dongong Dibagikan, Tradisi Diharapkan Masuk ke Sekolah dan Komunitas

Para peserta juga menerima Buko Dongong, buku dongeng berbahasa daerah Bengkulu. Pemberian buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai cinderamata, tetapi menjadi bahan bacaan yang dapat dipelajari kembali di rumah maupun sekolah.

Penyelenggara berharap workshop ini menjadi awal dari kegiatan berkelanjutan untuk menghidupkan kembali Likuk. Tradisi tersebut diharapkan dapat masuk ke lingkungan sekolah, komunitas pemuda, sanggar seni, serta berbagai agenda kebudayaan dan pariwisata.

Dengan keterlibatan 100 generasi muda, pelestarian Likuk diharapkan tidak berhenti pada tahap mengenal. Tradisi tersebut perlu terus dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya Bengkulu.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: teropongpublik.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks