BENGKULU — Deretan lampu temaram menerangi bastion Benteng Marlborough saat para direktur utama dan jajaran direksi bank daerah dari Sabang sampai Merauke berjalan menyusuri gerbang bersejarah itu. Mereka bukan sekadar tamu undian nasional Tabungan Simpeda, melainkan sasaran promosi besar-besaran wajah baru Kota Bengkulu.
Bank Bengkulu bertindak sebagai tuan rumah pertemuan tahunan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda). Selain Bank Bengkulu, hadir pula perwakilan dari Bank BJB, Bank Jatim, Bank Nagari, Bank Kaltimtara, Bank Sulselbar, hingga BRK Syariah.
Mengapa Pemkot Bengkulu Pilih Benteng, Bukan Hotel?
Dedy Wahyudi mengaku punya alasan khusus memindahkan jamuan resmi dari ballroom hotel ke pelataran benteng yang dibangun Inggris pada 1713 itu. Menurutnya, para petinggi bank sudah terlalu sering menghadiri acara seremonial di ruangan mewah.
"Kalau di hotel sudah biasa. Kami ingin memberikan kesan berbeda melalui makan malam di tempat bersejarah," ujar Dedy dalam sambutannya.
Benteng Marlborough sendiri menyimpan jejak kolonialisme yang panjang. Bangunan ini menjadi saksi perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Inggris, termasuk peristiwa pengasingan pangeran-pangeran dari Keraton Yogyakarta. Pemilihan lokasi ini diharapkan meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu yang mayoritas baru pertama kali menginjakkan kaki di Bengkulu.
Bengkulu Tak Lagi Bumi Rafflesia, Ini Alasannya
Di tengah jamuan makan malam, Dedy meluncurkan narasi baru yang selama ini digaungkan Pemkot. Penyebutan Bengkulu sebagai Bumi Rafflesia perlahan digantikan dengan identitas Bumi Merah Putih.
Perubahan ini bukan tanpa dasar. Bengkulu memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kelahiran Sang Saka, melalui Fatmawati Soekarno yang lahir dan dibesarkan di kota ini. Sebagai Ibu Negara pertama, Fatmawati menjahit bendera pusaka yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945.
"Bengkulu memiliki hubungan kuat dengan sejarah perjuangan bangsa. Karena itu kami ingin mengangkat identitas Bumi Merah Putih," kata Dedy.
Branding baru ini diharapkan memperluas daya tarik wisata. Tak lagi bertumpu pada bunga Rafflesia arnoldii yang mekar sekali setahun, Bengkulu kini menawarkan wisata sejarah perjuangan, peninggalan kolonial, hingga destinasi pantai yang membentang di sepanjang pesisir barat Sumatera.
Dampak Ekonomi ke Warga: Hotel Penuh, UMKM Kebagian Rezeki
Kehadiran delegasi dari 26 BPD tidak hanya soal seremonial. Ratusan peserta yang menginap selama dua hari di Kota Bengkulu otomatis menggerakkan sektor riil.
"Banyak yang datang ke Bengkulu. Mereka menginap, berbelanja dan tentu membuat perputaran ekonomi meningkat," ujar Dedy.
Hotel-hotel di sekitar kawasan Jalan Ahmad Yani dan Panorama dilaporkan penuh sejak awal pekan. Restoran lokal, penyedia transportasi, hingga pusat oleh-oleh menikmati lonjakan pembelian. Momen ini menjadi contoh nyata bagaimana event nasional berdampak langsung pada kantong warga.
Rangkaian acara Asbanda sendiri masih berlanjut dengan puncak Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII 2026 yang dijadwalkan berlangsung Jumat (21/8/2026). Pemkot Bengkulu berharap kesuksesan menyelenggarakan agenda sebesar ini membuka peluang event nasional lain di masa mendatang.