BENGKULU — Rencana besar pemerintah memperluas jaringan kereta api nasional mulai menemui titik terang. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkapkan studi kelayakan untuk tiga lintasan baru—Sumatra, Kalimantan, dan Bali—kini memasuki tahap kajian mendalam.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut proyek ini merupakan prioritas yang diinstruksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. "Presiden memerintahkan kami tiga wilayah, satu adalah Sumatra, kita sedang kerjakan Sumatra juga DED-nya, kemudian yang kedua Kalimantan, yang ketiga Bali," ujarnya usai Groundbreaking Hunian Terjangkau Manggarai di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Pembebasan Lahan Jadi Penentu Urutan Eksekusi
Dari tiga kandidat tersebut, pemerintah masih memilah wilayah mana yang paling siap secara teknis dan administratif. Faktor terbesar yang menentukan adalah kesiapan pembebasan lahan—variabel yang kerap menjadi ganjalan proyek infrastruktur di Indonesia.
"Nanti kita lihat. Kan kalau yang namanya pembangunan jalur kereta baru ini banyak faktor-faktornya, terutama juga faktor pembebasan lahannya," kata Bobby.
Ia menambahkan, wilayah dengan lahan paling siap akan dieksekusi lebih awal agar konektivitas penumpang dan distribusi barang bisa segera terwujud. Soal siapa yang beruntung menjadi yang pertama, Bobby masih merahasiakannya. "Surprise nanti mana yang akan kita selesaikan yang paling duluan," ucapnya singkat.
Karpet Merah untuk Pendanaan Asing
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah menjajaki skema pendanaan alternatif. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan keterbukaan penuh terhadap investor domestik maupun asing yang ingin terlibat, khususnya untuk jalur logistik di Sumatra dan Kalimantan.
"Kalau ada negara lain yang berminat, kami sangat dengan senang hati dan terbuka," kata Dudy usai peluncuran sistem Electronic Traffic Law Enforcement Hub (ETLE Hub) di Jakarta, Senin (10/8).
Keterlibatan swasta dinilai krusial untuk memperkuat rantai logistik nasional sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi di daerah. Untuk memastikan setiap rute benar-benar dibutuhkan, Kemenhub menggandeng Kementerian PPN/Bappenas dalam memetakan potensi wilayah, kebutuhan angkutan, dan arah pengembangan kawasan.
Adapun soal kemungkinan jalur kereta tersambung hingga Ibu Kota Nusantara (IKN), Dudy menyebut perencanaannya masih ditelaah. "Nanti kita lihat," katanya.
Anggaran Masih Mengambang
Nilai investasi mega proyek ini belum bisa dirinci. Kemenhub menegaskan besaran anggaran baru akan dihitung setelah analisis teknis tuntas—meliputi panjang lintasan, karakteristik medan, hingga spesifikasi kereta yang akan dioperasikan.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat konektivitas antarwilayah. Sumatra, Kalimantan, dan Bali memiliki karakteristik geografis yang berbeda, sehingga pendekatan pembangunan pun tak bisa diseragamkan. Jika terealisasi, jaringan ini akan menjadi tulang punggung baru distribusi barang dan mobilitas penumpang di luar Jawa.