BENGKULU — Kontrak berjangka CPO ditutup menguat 1,15 persen pada Jumat (21/8/2026) ke level 5.018 ringgit Malaysia per ton. Kenaikan sepekan ini sekaligus menjadi yang terbesar dalam 24 pekan terakhir, menunjukkan momentum bullish yang kuat di pasar komoditas sawit.
Katalis Reli: Dari Bursa Dalian hingga Mandat B50
Mengutip Trading Economics, reli harga CPO sepanjang pekan ini tidak lepas dari penguatan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China. Korelasi antara pasar minyak sawit dan minyak nabati lainnya memang erat, sehingga pergerakan di salah satu bursa utama langsung berdampak ke Malaysia.
Dari sisi domestik, permintaan CPO di Indonesia—sebagai produsen sawit terbesar dunia—ikut meningkat. Faktor utamanya adalah persiapan menuju penerapan penuh mandat biodiesel B50 yang dijadwalkan berjalan pada Oktober 2026. Kebijakan ini dipastikan menyerap lebih banyak CPO untuk campuran bahan bakar, sehingga mengerek permintaan di dalam negeri.
Harga Tertinggi Sejak Desember 2024
Level 5.018 ringgit per ton yang dicapai pekan ini menjadi titik tertinggi yang pernah tercatat sejak Desember 2024. Posisi ini menunjukkan pemulihan tajam setelah beberapa bulan sebelumnya harga sempat tertekan oleh tingginya stok global dan perlambatan permintaan dari beberapa negara importir.
Kenaikan tiga pekan beruntun ini menegaskan sentimen positif pelaku pasar terhadap prospek komoditas sawit. Kombinasi antara permintaan energi terbarukan yang kuat dan pasokan yang cenderung terbatas menjadi penopang utama harga.
Dampak ke Pasar dan Prospek ke Depan
Penguatan harga CPO ini menjadi kabar baik bagi petani dan perusahaan perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia. Pendapatan ekspor dua negara produsen utama ini diproyeksikan meningkat, sekaligus memperkuat posisi tawar di pasar global.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan implementasi B50 di Indonesia serta data produksi minyak sawit Malaysia yang dirilis bulanan. Jika permintaan tetap kuat dan pasokan tidak mampu mengimbangi, bukan tidak mungkin harga CPO masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatannya.