BENGKULU — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan stok beras di gudang Perum Bulog telah menembus 5,3 juta ton. Angka ini disampaikan dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di hadapan DPR RI, pekan lalu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Surplus beras tercatat sekitar 3,5 juta ton dan pemerintah memastikan tidak ada impor beras konsumsi sepanjang tahun lalu.
Kesejahteraan Petani Mulai Terlihat di Angka NTP
Di level petani, indikator kesejahteraan menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada April 2026 berada di angka 125,24—di atas titik impas 100. Artinya, daya beli petani relatif terjaga meskipun ekonomi dan iklim masih penuh tantangan.
Modernisasi pertanian menjadi salah satu pendorong utama. Sensor digital, drone pemantau lahan, sistem irigasi otomatis, dan analitik data mulai diterapkan di berbagai daerah. Pendekatan smart farming 4.0 ini tidak hanya menekan risiko gagal panen, tetapi juga membuka akses pasar lebih luas lewat platform digital dan marketplace pertanian.
Tambak Udang Kebumen: Proyeksi 960 Ton Per Siklus
Salah satu contoh nyata adalah Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan ini mengintegrasikan teknologi budidaya modern dan diproyeksikan mampu menghasilkan 960 ton udang per siklus panen, dengan nilai produksi mencapai Rp153 miliar per tahun. Proyek ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal.
Pemerintah juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga harga beras tetap terjangkau, terutama di wilayah non-sentra produksi yang rentan terhadap gejolak distribusi. Program ini menjadi bantalan saat fluktuasi kurs dolar AS menekan biaya logistik.
Keadilan Sosial di Balik Data Produksi
Meski angka produksi dan cadangan nasional menunjukkan tren positif, tantangan masih membentang. Tidak semua wilayah memiliki akses teknologi yang sama. Perubahan iklim tetap mengancam produktivitas, sementara regenerasi petani masih menjadi pekerjaan rumah jangka panjang.
Transformasi pertanian membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat. Teknologi menjadi alat, bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya tetap: petani bekerja lebih baik, ketahanan pangan terjaga, dan setiap warga negara bisa mengakses pangan yang layak.
Semangat Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa pembangunan pangan tidak berhenti pada produksi tinggi. Keadilan sosial hadir ketika hasil pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok, dan kesejahteraan petani ikut meningkat seiring melimpahnya stok nasional.