Bengkulu bukan sekadar kota kecil di pesisir barat Sumatera. Di balik teduhnya pohon beringin di pusat kota, tersimpan sejarah yang berlapis—dari pengaruh Kesultanan Banten, jejak kolonial Inggris yang unik, hingga peran pentingnya di masa kemerdekaan. Bagi warga lokal maupun perantau yang penasaran, memahami perjalanan Bengkulu adalah kunci untuk mengapresiasi karakter kota ini.
Alih-alih sekadar daftar tanggal dan nama raja, kita akan menyusuri momen-momen spesifik yang membentuk Bengkulu seperti sekarang. Mulai dari benteng peninggalan Inggris, pengasingan Bung Karno, hingga tantangan perkotaan yang dihadapi saat ini.
Zamannya Kerajaan dan Awal Kedatangan Bangsa Eropa
Sebelum kolonial, wilayah Bengkulu merupakan bagian dari pengaruh Kesultanan Banten di abad ke-16 hingga ke-17. Lada menjadi komoditas utama yang menarik perhatian pedagang asing. Inggris, yang kala itu bersaing dengan Belanda di Nusantara, melihat peluang di pesisir barat Sumatera.
Tahun 1685, pedagang Inggris dari East India Company (EIC) mendirikan loji (pos dagang) di Bengkulu. Mereka menyebutnya "Bencoolen". Berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang mayoritas dikuasai Belanda, Bengkulu menjadi satu-satunya daerah yang cukup lama berada di bawah kekuasaan Inggris—hampir 140 tahun.
Benteng Marlborough: Saksi Bisu Kekuasaan Inggris
Pusat pemerintahan Inggris di Bengkulu berpusat di Benteng Marlborough. Bangunan ini didirikan antara tahun 1714 hingga 1719 di atas bukit di tepi pantai. Nama "Marlborough" diambil dari John Churchill, Duke of Marlborough, seorang jenderal Inggris terkenal.
Benteng ini bukan hanya tempat pertahanan. Di dalamnya terdapat gudang mesiu, barak tentara, ruang sidang, hingga penjara. Letaknya yang strategis menghadap Samudra Hindia membuatnya sulit ditembus dari serangan laut. Hingga kini, Benteng Marlborough berdiri kokoh di pusat Kota Bengkulu, menjadi salah satu ikon sejarah utama.
Warisan Thomas Stamford Raffles di Bengkulu
Siapa yang tidak kenal Thomas Stamford Raffles, pendiri Singapura? Namun sebelum ke Singapura, Raffles pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Bengkulu dari tahun 1818 hingga 1824. Di bawah kepemimpinannya, ia membawa sejumlah perubahan.
Raffles memperkenalkan sistem tanam paksa yang lebih lunak, membangun jalan, dan yang paling terkenal, ia menemukan bunga Rafflesia arnoldii di hutan Bengkulu bersama Joseph Arnold. Ia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Benteng Marlborough ke sebuah rumah di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Pasar Bengkulu. Jejak Raffles masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota, termasuk makam istrinya, Olivia, di pemakaman Eropa di Jalan Soekarno-Hatta.
Periode Belanda dan Masa Kolonial Akhir
Melalui Traktat London 1824, Inggris menukar Bengkulu dengan wilayah Belanda di Semenanjung Malaya (kini Malaysia). Sejak itu, Bengkulu resmi berada di bawah kekuasaan Belanda. Belanda tidak banyak membangun infrastruktur besar di Bengkulu, mengingat daerah ini dianggap kurang produktif dibanding Jawa atau Sumatera Timur.
Namun, masa ini meninggalkan satu warisan penting: sistem pemerintahan yang terstruktur dan eksploitasi sumber daya alam. Perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Belanda juga terus terjadi, meski tidak sebesar di daerah lain. Tokoh seperti Pangeran Natadireja tercatat memimpin perlawanan pada pertengahan abad ke-19.
Bengkulu dan Perjuangan Kemerdekaan: Pengasingan Bung Karno
Bagi banyak orang, Bengkulu identik dengan tempat pengasingan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Pada tahun 1938, Belanda mengasingkan Bung Karno ke Bengkulu setelah pengasingannya di Ende, Flores. Di sini, ia tinggal di sebuah rumah di Jalan Soekarno-Hatta (kini menjadi Museum Bung Karno).
Selama di Bengkulu, Bung Karno tidak tinggal diam. Ia aktif berdakwah, bergaul dengan masyarakat, dan mendirikan kelompok teater. Di kota ini pula ia bertemu dengan Fatmawati, gadis asli Bengkulu yang kelak menjadi Ibu Negara dan penjahit bendera pusaka merah putih. Pengalaman Bung Karno di Bengkulu membentuk karakternya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Bengkulu di Era Kemerdekaan dan Provinsi Baru
Setelah proklamasi 1945, Bengkulu bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Awalnya, Bengkulu menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Baru pada tahun 1968, berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967, Bengkulu resmi menjadi provinsi ke-26 di Indonesia, terpisah dari Sumatera Selatan.
Sejak menjadi provinsi, Bengkulu perlahan membangun diri. Sektor pertanian, perkebunan (terutama kopi dan kelapa sawit), serta perikanan menjadi tulang punggung ekonomi. Kota Bengkulu sendiri berkembang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan di pesisir barat Sumatera.
Bengkulu Kini: Antara Potensi dan Tantangan
Hari ini, Bengkulu dikenal dengan julukan "Bumi Rafflesia" karena menjadi habitat bunga raksasa tersebut. Pariwisata sejarah menjadi salah satu daya tarik utama, dengan Benteng Marlborough dan Museum Bung Karno sebagai andalan. Namun, Bengkulu juga menghadapi tantangan nyata: infrastruktur yang masih tertinggal dibanding provinsi tetangga, risiko gempa bumi karena berada di jalur patahan Sumatera, serta arus urbanisasi.
Meski begitu, semangat masyarakat Bengkulu untuk maju tidak pernah padam. Kini, mulai bermunculan kafe-kafe modern di tepi pantai, pusat perbelanjaan baru, dan perbaikan jalan lintas Sumatera bagian barat. Bengkulu perlahan menemukan identitasnya sebagai kota yang tenang, historis, dan penuh potensi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa bukti peninggalan Inggris yang masih ada di Bengkulu?
Bukti paling jelas adalah Benteng Marlborough yang masih berdiri utuh. Selain itu, ada juga makam-makam Eropa di pemakaman di Jalan Soekarno-Hatta dan beberapa meriam kuno di sekitar benteng.
2. Mengapa Bung Karno diasingkan ke Bengkulu?
Bung Karno diasingkan Belanda ke Bengkulu pada 1938 karena dianggap sebagai tokoh pergerakan yang berbahaya. Belanda memilih Bengkulu yang terpencil dan jauh dari pusat pergerakan nasionalis di Jawa.
3. Apakah Bengkulu pernah menjadi pusat perdagangan penting?
Pada abad ke-18, Bengkulu (Bencoolen) adalah pos dagang utama Inggris di Sumatera untuk lada. Namun, perdagangannya tidak pernah sebesar Batavia atau Malaka.
4. Kapan Bengkulu resmi menjadi provinsi?
Bengkulu resmi menjadi provinsi pada tahun 1968, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.
5. Apa saja destinasi sejarah yang wajib dikunjungi di Bengkulu?
Destinasi utama adalah Benteng Marlborough, Museum Bung Karno, dan makam-makam Belanda di pemakaman Eropa. Ketiganya berada di pusat kota dan mudah diakses.
Sejarah Bengkulu bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah fondasi yang membentuk karakter kota ini—kota yang tenang, penuh kenangan kolonial, dan terus berbenah. Dari Benteng Marlborough hingga rumah pengasingan Bung Karno, setiap sudut Bengkulu menyimpan cerita yang layak untuk terus digali.