Pencarian

Waspada Abu Vulkanik pada Anak: Kenali Gejala yang Wajib Dibawa ke Faskes

Senin, 07 September 2026 • 09:51:31 WIB
Waspada Abu Vulkanik pada Anak: Kenali Gejala yang Wajib Dibawa ke Faskes
Warga melintas di kawasan terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyelimuti wilayah permukiman.

BENGKULU — Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada di level Siaga (Level III) pasca erupsi yang dimulai sejak 4 September 2026. Sebaran abu vulkaniknya sendiri telah mencapai wilayah padat penduduk seperti Jabodetabek, Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa Barat. Kondisi ini jelas bikin deg-degan, Moms, apalagi kalau si kecil punya riwayat penyakit saluran napas.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi (K), mengingatkan bahwa partikel abu yang terhirup bisa menjadi iritan kuat bagi saluran pernapasan anak. Dampaknya tidak hanya batuk pilek biasa, tapi bisa memicu kondisi yang jauh lebih serius.

Mengapa Anak Lebih Rentan Terdampak Abu Vulkanik?

Secara anatomi, saluran pernapasan anak masih dalam tahap pertumbuhan dan ukurannya lebih sempit dibanding orang dewasa. Hal ini membuat mereka lebih mudah mengalami penyumbatan saat terjadi peradangan. IDAI menekankan, kelompok yang paling berisiko tinggi mengalami komplikasi adalah bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal, anak dengan penyakit jantung bawaan, serta mereka yang punya riwayat asma atau alergi.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr. Wahyuni dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/8/2026).

Untuk itu, jangan pernah menganggap sepele keluhan batuk atau pilek yang muncul setelah si kecil bermain di luar rumah selama periode erupsi ini.

Langkah Protektif yang Bisa Dilakukan di Rumah

Jika memungkinkan, opsi terbaik adalah mengungsikan anak menjauhi wilayah terdampak. Namun, bila harus tetap tinggal di rumah, ada beberapa langkah protektif yang wajib diterapkan untuk meminimalkan risiko paparan:

1. Isolasi Ruangan dan Atur Sirkulasi Udara
Pastikan seluruh ventilasi dan celah pintu/jendela tertutup rapat saat kualitas udara memburuk atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di atas 100. Matikan AC dan alihkan ke mode sirkulasi ulang (recirculation) jika fitur tersebut tersedia. Hindari penggunaan kipas angin karena dapat menerbangkan kembali partikel abu yang sudah mengendap di lantai atau furnitur.

2. Teknik Membersihkan Rumah yang Tepat
Saat membersihkan rumah, jauhkan anak dari area pembersihan. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering karena partikel kecil akan mudah beterbangan dan terhirup. Gunakan kain pel atau lap basah untuk mengikat partikel abu agar tidak kembali melayang di udara.

3. Perlengkapan Wajib Saat Si Kecil Harus Keluar
Jika benar-benar harus keluar rumah, pastikan si kecil (usia di atas 2 tahun) memakai masker khusus anak yang terpasang dengan baik. Gunakan juga kacamata untuk melindungi mata dari iritasi, serta pakaian tertutup untuk meminimalkan kontak abu dengan kulit. Setibanya di rumah, segera bersihkan diri dan ganti seluruh pakaian.

4. Jaga Asupan dan Hindari Iritan Tambahan
Pastikan kebutuhan cairan harian anak tercukupi dengan memberikan air putih yang cukup dan makanan bergizi seimbang. Jauhkan anak dari paparan asap rokok dan asap dapur yang bisa memperparah iritasi saluran pernapasan. Untuk anak dengan riwayat asma atau alergi, selalu siapkan obat-obatan rutin dan obat darurat yang diresepkan dokter.

Kapan Harus Segera Membawa Anak ke Rumah Sakit?

IDAI meminta orang tua untuk tidak menunggu hingga kondisi anak semakin parah. Segera bawa si kecil ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas yang menjadi lebih cepat dari biasanya, terlihat ada tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, atau jika hasil pengukuran oksimeter jari menunjukkan saturasi oksigen di bawah 94 persen.

Tanda-tanda tersebut mengindikasikan anak mengalami distress pernapasan dan membutuhkan penanganan medis segera. Penanganan yang cepat akan mencegah kondisi memburuk menjadi komplikasi yang lebih serius.

Moms, masa erupsi ini memang penuh kekhawatiran, tetapi dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, kita bisa menjaga si kecil tetap aman dan sehat.

Follow lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks