BENGKULU — Desakan agar Gianni Infantino mundur dari kursi presiden FIFA kembali menguat. Kali ini, tekanan datang dari Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris, Lisa Nandy, yang secara blak-blakan menyatakan Infantino "harus pergi". Namun Nandy menolak mendukung boikot Piala Dunia U-20 Wanita karena dianggap tidak adil bagi para atlet muda yang tidak bersalah atas gejolak politik ini.
Pandangan Nandy itu justru mendapat tentangan dari sejumlah pihak. Mereka menilai justru dengan berpartisipasi, para pemain muda akan menjadi korban dari keputusan FIFA yang tidak transparan. Boikot, dalam konteks ini, bukan soal menghukum atlet, melainkan melindungi masa depan mereka dari arah kebijakan FIFA yang dinilai keliru.
Mengapa Boikot Dianggap Penting untuk Masa Depan Sepak Bola Wanita?
Kekhawatiran utama berasal dari rencana FIFA yang sempat ingin menjual sebagian kepemilikan turnamen mereka, termasuk turnamen wanita, melalui badan usaha patungan bernama FIFA Forward Enterprise. Rencana ini dianggap berbahaya karena keputusan besar akan diambil tanpa melibatkan suara pemain dan pelatih wanita.
Mantan bek timnas Inggris, Lucy Bronze, menjadi salah satu suara paling vokal yang mendukung aksi boikot. Ia menilai langkah ini perlu diambil "demi kebaikan permainan". Bronze menegaskan bahwa masa depan karier para pemain muda justru dipertaruhkan oleh keputusan yang dibuat oleh para pejabat di balik meja.
Kesenjangan Gender yang Masih Mencolok di Tubuh FIFA
Ketidaksetaraan di internal FIFA masih menjadi sorotan. Dari 18 anggota komite disiplin FIFA, hanya dua perempuan yang duduk di dalamnya, yakni Paola López dari Meksiko dan Thi My Dung Nguyen dari Vietnam. Bahkan, seluruh 10 anggota Komite Masa Depan Sepak Bola (Future of Football Committee) adalah laki-laki.
Di jajaran Dewan FIFA, badan strategis tertinggi, hanya delapan dari 37 kursi yang diisi perempuan. Tujuh dari delapan wakil presiden juga merupakan laki-laki. Kondisi ini kontras dengan fakta bahwa total hadiah Piala Dunia Wanita 2023 hanya 110 juta dolar AS, sementara Piala Dunia pria di musim panas yang sama mencapai rekor 871 juta dolar AS—hampir delapan kali lipat lebih besar.
Perbaikan yang Ada Belum Cukup untuk Menutup Akar Masalah
Diakui bahwa sejak Infantino menjabat pada 2016, ada peningkatan fasilitas pemain dan kenaikan hadiah uang untuk turnamen wanita. Namun, dokumen penawaran FIFA Forward Enterprise setebal 25 halaman hanya memuat satu referensi tentang sepak bola wanita. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan tersebut hanyalah tempelan, bukan perubahan fundamental.
Pidato Infantino di Sydney tiga tahun lalu yang meminta para perempuan untuk "memilih pertarungan yang tepat" dan "mendorong pintu yang terbuka" kini menjadi simbol sikap merendahkan yang masih melekat. Kekuatan untuk memaksa perubahan, pada akhirnya, mungkin justru berada di tangan para pemain muda yang bersedia mengambil sikap berani dengan mengorbankan turnamen mereka sendiri.